Kawanan Kita

Kawanan Kita

Oleh: Ustadz Felix Siauw

Seseorang takkan menyelisihi kawanannya, maka bila ingin melihat nilai dirinya, nilailah dari kawanannya. Sebab ruh-ruh itu saling bertaut, dan saling menyesuaikan satu dan yang lainnya, sesuai dengan kesamaan

Tentang seseorang

Dia namakan dirinya pemuka agama, kemana-mana menyandang gelar kyai haji, tapi akrabnya dengan orang kafir, penista agama dibela, pengusaha-pengusaha dijilat, maka sulit bagi ummat menerimanya

Dengan kaum Muslim selalu tampak ketidaksukaannya, Aksi Bela Islam disebut bayaran, tidak ikhlas, tidak sah ibadah shalatnya. Mau menuduh tapi anti dikritik

Tapi disisi lain, begitu berbinar mata, berseri wajah saat berjumpa dengan mereka yang punya kekuasaan dan kekayaan. Puja-puji begitu murah dilisankan, gelar-gelar agama diberikan, dimuliakan begitu rupa

Tentang seseorang lainnya

Ada pula, orang yang tak dipandang olehnya, seolah tak dikenali, bahkan ke-ulama-annya tidak dianggap. Tapi begitu bertahta di hati ummat, dicintai ummat, dikagumi dewasa sampai anak-anak, luas ilmunya

Di saat dia dinyinyiri oleh yang mengaku ulama dan kawanannya penista, orang ini memberi kajian tak henti-henti, puluhan ribu tiap kalinya, mengajak ummat agar terus merindu pada diterapkannya Islam

Semakin difitnah, semakin harum, layaknya kayu gaharu yang semerbak saat dibakar. Ulama dan habaib merindukannya, kawanannya jelas, dia tak bergelar kiai haji, tapi adanya selalu ditunggu meski hujan dan terik

Dia dibenci penista agama, cukong taipan penjajah menuduhnya rasis, liberalis menuding dia afiliasi grup radikal, pejabat-pejabat berlomba mempersekusi dakwahnya

Lihatlah kawanan-kawanannya, sebab ruh-ruh tertaut sesuai dengan nilainya. Kemana ruh kita cenderung? Pada mereka yang berkumpul dengan para penista agama, ataukah dengan ulama yang dibenci kaum penista agama?

***

AlilaHijabku.com

Artikel Terkait