Butuh Bantuan? Customer service Distributor Hijab Alila siap melayani dan membantu Anda.
INFO : Alila Fair Online sedang berlangsung, yuuk segera hubungi kami dear :) Diskon up to 25% INFO : Alila Fair Offline sedang berlangsung, yuuk segera kunjungi kami dear :) Diskon up to 50%
Beranda » Artikel Terbaru » HUKUM MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA DAN “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” KETIKA ORANG KAFIR MENINGGAL

HUKUM MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA DAN “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” KETIKA ORANG KAFIR MENINGGAL

Diposting pada 12 April 2020 oleh Distributor Hijab Alila | Dilihat: 144 kali
Jawabannya adalah boleh, karena inti dari kalimat istirja’ adalah kita semua milik Allah dan kembali kepada Allah. Hanya saja tidak boleh kita doakan dengan doa semacam: “Semoga tenang di sisi-Nya”, “Semoga diampuni dan mendapat tempat tertinggi”. Tidak boleh kita doakan dengan doa semacam ini, yaitu doa agar diampuni, atau doa mendapat ketenangan dan sebagainya.
Tidak boleh juga kita mengucapkan RIP (Rest In Peace) atau yang semisalnya kepada orang kafir yang meninggal karena itu termasuk doa agar orang kafir hidup damai di akhirat. Padahal hal tersebut mustahil. Sebab orang kafir pasti masuk neraka atau tidak akan hidup damai di akhirat.
Berikut pertanyaan diajukan kepada syaikh bin Baaz rahimahullah, “Jika seorang laki-laki atau wanita kafir meninggal, apakah boleh kita ucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”? Apakah boleh kita berkata “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan diridhai.”?
Beliau menjawab: “Seorang kafir jika meninggal, tidak mengapa kita ucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Alhamdulillah, ini tidak mengapa. Manusia kembali kepada Allah dan semuanya milik Allah, tidak mengapa hal seperti ini.
Akan tetapi tidak boleh didoakan, selama ia mati kafir dan tidak boleh dikatakan: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan diridhai”. Karena jiwa orang kafir tidak tenang, jiwa yang fajir, perkataan ini dikatakan hanya kepada orang mukmin saja.
Dan tidak mengapa jika yang dikatakan adalah : “Semoga Allah memberikan pahala yang besar untukmu dengan (kesabaranmu atas) kematiannya dan memberikan hiburan pelipur lara untukmu sebagai pengganti kematiannya” jika yang ditinggalkannya adalah seorang muslim.
Sangat tegas dalam firman Allah Ta’ala, kita tidak boleh mendoakan ampun bagi orang kafir yang sudah meninggal.
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim” (QS.At-Taubah [9] : 113).
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُصَلِّ عَلٰۤى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّا تَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖ ۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَا تُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ
“Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan sholat untuk seseorang yang mati di antara mereka, selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 84).
Imam An-Nawawi berkata,
قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع
“Adapun menshalati orang kafir dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka hukumnya haram, berdasarkan nash Al–qur’an dan Ijma’ (al-Majmu’ 5/120).
Allah berfirman,
يا أيها الذين آمنوا لا تتولوا قوما غضب الله عليهم
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum yang dimurkai oleh Allah (orang-orang kafir)…” (QS. Al-Mumtahanah [60] : 13).
Ada dua hal yang perlu kita bedakan terkait interaksi dengan non muslim:
Pertama, berbuat baik dan bersikap adil kepada mereka.
Sikap semacam ini diajarkan dan dianjurkan dalam Islam. Kaum muslimin, siapapun dia, disyariatkan untuk berbuat baik, bersikap baik terhadap semuanya, bahkan kepada orang kafir sekalipun. Sebagaimana yang Allah firmankan,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِين
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah [60] : 8).
Kedua, Memberikan loyalitas.
Sikap yang kedua ini dilarang dalam Islam, bahkan Allah memberikan ancaman yang sangat keras bagi kaum muslimin yang memberikan loyalitas kepada orang kafir. Allah berfirman,
لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿٢٢﴾
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (QS.Al – Mujadilah [58] : 22).
Para ulama menggolongkan menghadiri jenazah orang kafir termasuk bentuk memberikan loyalitas. Karena itulah mereka melarang kaum muslimin menghadiri jenazah non muslim.
Ketika Abu Talib meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak megurusi mayatnya sama sekali. Beliau hanya menyuruh Ali bin Abi Talib untuk menguburkannya. Padahal kita tahu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berharap agar Abu Tallib masuk Islam. Sampai ketika pamannya meninggal dalam kondisi kafir, beliau sangat sedih dan ingin memohonkan ampun untuk Abu Talib. Terkait peristiwa ini, Allah menurunkan firman-Nya:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang kamu cintai, namun Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS.Al-Qashas [28] : 56).
Dari Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika pamannya meninggal, dia datang melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ
“Sesungguhnya pamanmu, si tua yang sesat itu telah mati. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
اذْهَبْ فَوَارِ أَبَاكَ
“Segera kuburkan bapakmu” (HR. Abu Daud 3214 dan An- Nasai 2006).
Imam Malik rahimahullah berkata : “Seorang muslim tidak boleh memandikan ayahnya, jika ayahnya mati kafir, tidak boleh mengiringi mayatnya, dan tidak boleh pula memasukkannya ke kuburan. Kecuali jika dia khawatir mayitnya tidak terurus, maka dia boleh menguburkannya” (al-Mudawanah, 1:261).
Dalam Syarah Muntaha al-Iradat dijelaskan maksud Imam Malik di atas,
“Orang muslim tidak boleh memandikan orang kafir”, karena adanya larangan untuk memberikan loyalitas kepada orang kafir. Karena hal itu termasuk mengagungkan dan mensucikannya, karena itu, perbuatan ini tidak dibolehkan. Sebagaimana tidak boleh menshalati mayatnya” (Syarh Muntaha al-Iradat, 1:347).
Dalam Kasyaful Qana’ dinyatakan, “Seorang muslim diharamkan memandikan orang kafir, meskipun dia kerabat dekat. Dilarang pula mengkafani, menshalati mayatnya, mengikuti jenazahnya atau menguburkannya. Berdasarkan firman Allah, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum yang dimurkai oleh Allah”. Sementara memandikan mayit dan semacamnya, termasuk memberikan loyalitas kepadanya. Karena mengandung unsur; mengagungkan dan mensucikan mereka. Statusnya seperti menshalati mereka, kecuali jika tidak ada orang lain yang menguburkannya maka keluarganya harus menguburkannya” (Kasyaful Qana’, 2:123).
Demikian juga ucapan “Semoga arwahnya tenang di sisi-Nya”, tentu saja tidak boleh. Sebab dalam pandangan aqidah islam, seorang yang mati dalam keadaan kafir, arwahnya tidak akan tenang. Sebab mereka harus berhadapan dengan malaikat azab.
Hal ini bukan berarti kita harus membenci orang kafir. Sama sekali tidak. Namun ini adalah bagian dari aqidah seorang muslim, untuk membedakan bahwa agama Islam itu tidak sama dengan agama lain. Bedanya jelas, yang muslim kalau mati masuk surga sedangkan yang bukan muslim matinya pasti masuk neraka. Jadi ungkapan bahwa semua agama itu sama adalah ungkapan yang sesat dan menyesatkan.
Tetapi kalau kita sampaikan rasa bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan, misalnya dengan ucapan turut berduka cita, seperti yang umumnya tertulis di karangan bunga, tentu tidak menjadi masalah. Karena, ungkapan ini juga bukan doa melainkan hanya ungkapan rasa simpati sebagai sesama manusia biasa. Bahkan kalaupun kita mohon kepada Allah Ta’ala agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran, tentu saja tidak mengapa.

Bagikan informasi tentang HUKUM MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA DAN “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” KETIKA ORANG KAFIR MENINGGAL kepada teman atau kerabat Anda.

HUKUM MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA DAN “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” KETIKA ORANG KAFIR MENINGGAL | Distributor Hijab Alila

Belum ada komentar untuk HUKUM MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA DAN “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN” KETIKA ORANG KAFIR MENINGGAL

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Orang lain melihat produk ini, mungkin Anda juga tertarik?

Terpopuler
Khimar Luxy Grey dan Donker

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 90.000
Tersedia / Khimar Luxy Grey dan Donker
Rp 90.000
Stok: Tersedia
Kode: Khimar Luxy Grey dan Donker
Paling Laris
Gamis Q Baby Pink

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 235.000
Tersedia / Gamis Q Baby Pink
Rp 235.000
Stok: Tersedia
Kode: Gamis Q Baby Pink
Edisi Terbatas
Gamis Denim Pocket Denim dan Dark Denim

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 355.000
Tersedia / Gamis Denim Pocket Denim dan Dark Denim
Rp 355.000
Stok: Tersedia
Kode: Gamis Denim Pocket Denim dan Dark Denim
Paling Laris
Gamis Ayumi Purple

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 235.000
Tersedia / Gamis Ayumi Purple
Rp 235.000
Stok: Tersedia
Kode: Gamis Ayumi Purple
SIDEBAR